Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Harmoni Spiritualitas dan Tradisi: Hangatnya Tradisi ‘Lek-Mellek’ Jelang Hari Bahagia di Madura

MADURA SAMPAMG II ASSUFAH -- Malam menjelang hari pernikahan di Madura bukan sekadar persiapan teknis dekorasi atau katering. Di balik kemeriahan tenda yang mulai berdiri, terdapat satu tradisi turun-temurun yang masih dijaga erat oleh para pemuda desa, yakni Lek-Mellek. Tradisi begadang bersama ini menjadi simbol solidaritas sekaligus ruang doa sebelum sang tuan rumah melepas masa lajang.

​Kegiatan yang berlangsung sejak selepas Isya ini diawali dengan nuansa religius yang kental. Para pemuda, tokoh masyarakat, dan tetangga berkumpul di kediaman calon mempelai untuk melaksanakan tasakkuran. Suasana menjadi syahdu saat lantunan tawassul Al-Fatihah dikirimkan untuk para leluhur, memohon restu dari mereka yang telah tiada agar hajatan besar esok hari berjalan tanpa hambatan.

Spiritualitas Sebagai Fondasi

​Acara inti dibuka dengan pembacaan Surat Yasin, Tahlil, serta Istighosah keselamatan. Bagi masyarakat Madura, doa bersama bukan sekadar formalitas, melainkan benteng spiritual. "Kami berkumpul tidak hanya untuk sekadar melek (terjaga), tapi mengawali hajat ini dengan menyebut nama Allah dan mendoakan keselamatan bagi kedua mempelai serta seluruh keluarga besar," ujar salah satu pemuda setempat.

​Usai doa bersama dan pembacaan doa penutup, suasana yang khusyuk perlahan mencair dalam sesi ramah tamah. Hidangan khas desa—biasanya berupa kopi hitam kental dan camilan tradisional—menjadi pendamping obrolan hangat antar warga. Di sinilah letak nilai sosial Lek-Mellek, di mana silaturahmi antar pemuda desa diperkuat di tengah gempuran zaman digital.

Hiburan Rakyat Hingga Dini Hari

​Menjelang tengah malam, wajah tradisi bergeser menjadi lebih santai dan penuh tawa. Arena bermain domino mulai dibuka di sudut-sudut teras, menciptakan keriuhan kecil yang akrab. Suara kartu yang dihempaskan ke meja dibarengi dengan candaan khas Madura menjadi pemecah sunyi malam.

​Tak ketinggalan, sesi karaoke menjadi primadona yang ditunggu-tunggu. Dengan mikrofon di tangan, para pemuda bergantian menyanyikan lagu-lagu hits maupun dangdut klasik yang membuat suasana semakin hidup hingga dini hari. Meski diisi dengan hiburan, esensi menjaga keamanan dan kebersamaan tetap menjadi yang utama.

​Tradisi Lek-Mellek membuktikan bahwa di Madura, pernikahan bukan hanya milik dua individu, melainkan hajat kolektif satu desa. Melalui kombinasi doa dan tawa, para pemuda desa memastikan bahwa sang calon pengantin tidak melangkah sendirian menuju hari bahagianya. (SB & Afnan)

Prev Article
Penyaluran Zakat Fitrah bagi Muallaf oleh Naqobah Ansab Auli...
Next Article
Silaturahmi Idul Fitri 1447 H: Kehangatan Keluarga Besar LPI...