Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Kilau Embun di Hati Hanief: Puasa Sang Juara

PAMEKASAN, CERITA II ASSUFAH - Mentari pagi di halaman SDIT ABFA memancarkan kehangatan yang berbeda. Suasana Ramadan menyelimuti sekolah, membawa ketenangan sekaligus semangat ibadah yang kental. Di salah satu kelas, seorang anak laki-laki kelas 1 bernama Hanief berdiri tegak di depan kelas. Wajahnya yang bulat tampak berseri, meskipun ia sedang menjalankan ibadah puasa.

Di hadapannya, duduk sang guru kelas dan kedua orang tuanya yang sengaja diundang untuk sesi "Kisah Inspiratif Ramadan". Hanief tidak tampak ragu. Dengan suara lantang dan penuh semangat, ia memulai ceritanya.

Cahaya Penghapus Dosa

"Ustadzah, Ayah, dan Bunda," sapa Hanief sambil tersenyum lebar. "Tahu tidak? Puasa itu seperti penghapus ajaib!"

Ia menggerakkan tangannya seolah sedang menghapus papan tulis. "Kata Ustadzah, orang-orang hebat zaman dulu, para sahabat Nabi, mereka sangat senang saat Ramadan tiba. Kenapa? Karena puasa orang beriman itu bisa menghapus dosa-dosa yang lalu, bersih seperti kertas putih lagi!"

Hanief menjelaskan dengan gaya yang ekspresif. Ia bercerita bahwa puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus, tapi tentang menjaga hati. Jika kita berpuasa dengan iman, Allah akan menyayangi kita seperti Allah menyayangi orang-orang shalih terdahulu.

Semangat Sang Pejuang Kecil

"Hanief belajar, kalau kita mengeluh lapar, pahalanya bisa berkurang. Jadi, Hanief mau semangat!" serunya sambil mengepalkan tangan ke udara.

Bunda Hanief berkaca-kaca melihat putra kecilnya yang baru berusia tujuh tahun begitu mendalami makna ibadah. Hanief bercerita bagaimana ia berusaha tidak marah saat mainannya dipinjam teman, atau tetap tersenyum meski perutnya sedikit keroncongan. Baginya, setiap detik menahan diri adalah langkah kaki menuju surga.

"Dulu, orang beriman terdahulu tetap kuat bekerja dan berdakwah meski haus. Hanief juga mau begitu! Hanief mau jadi anak hebat yang dosanya dihapus Allah karena sungguh-sungguh berpuasa," tambahnya dengan binar mata yang menginspirasi siapa pun yang melihatnya.

Penutup yang Menyentuh

Di akhir presentasinya, Hanief memberikan hormat dengan takzim. Keberanian dan ketulusannya memberikan pesan kuat: bahwa keimanan tidak mengenal usia. Jika anak kelas 1 SDIT ABFA saja bisa memahami betapa berharganya pengampunan Allah di bulan Ramadan, tentu kita yang lebih dewasa harus lebih bersemangat.

Ruangan itu hening sejenak, lalu pecah oleh tepuk tangan haru. Hanief telah membuktikan bahwa puasa adalah perjalanan kembali menjadi suci, sebuah kado indah dari Allah untuk mereka yang beriman. FAT & NF

Prev Article
CERITA Ramadhan dan Cahaya Huruf-Huruf Surga
Next Article
Masjid An-najah Duko Gladak Anyar: Pusat Syiar Ramadhan dan...