Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

CERITA RAMADHAN II Langit Jingga untuk Tika: Sebuah Perjalanan Menuju Maghrib

RIAU II ASSUFAH -- Di sebuah sudut Desa Tokiyem, Kecamatan Mambula, Riau, udara pagi selalu terasa segar dengan aroma kebun yang khas. Di sana, tinggal seorang gadis kecil bernama Tika, siswi sekolah dasar yang memiliki semangat sebesar dunia. Namun, ada satu tantangan besar bagi Tika di bulan Ramadan ini: bangun sahur.

Karena kebiasaan tidur yang agak larut, Tika selalu gagal membuka mata saat azan subuh berkumandang. Matanya seolah terperekat rapat. Baru pada pukul 06.30 WIB, saat matahari sudah mulai mengintip dari balik pohon kelapa, Tika terbangun dengan wajah panik.

"Ayah, Tika telat sahur ya?" tanyanya dengan suara serak.

Pelukan Ayah dan "Sahur Pagi"

Bagi sebagian orang, mungkin sahur jam setengah tujuh pagi adalah sebuah kesalahan. Namun, Ayah Tika adalah sosok yang luar biasa bijaksana. Alih-alih memarahi atau mengejeknya dengan sebutan "puasa bohong", Ayah justru tersenyum hangat dan menyiapkan segelas susu serta sepotong roti.

"Tidak apa-apa, Nak. Tika sedang belajar. Ini 'Sahur Pagi' spesial untuk pejuang kecil. Makanlah, lalu niatkan dalam hati untuk belajar menahan diri hari ini," ujar Ayahnya lembut.

Apresiasi sang Ayah menjadi bahan bakar luar biasa bagi Tika. Di sekolahnya, SD Al Kinanah, Tika tetap ceria meskipun perutnya mulai bernyanyi kecil saat jam istirahat tiba. Dukungan tanpa bullying dari rumah membuatnya merasa bahwa proses belajar ini adalah sesuatu yang membanggakan, bukan beban.

Ujian di Waktu Dzuhur

Matahari Mambula mulai menyengat saat jam menunjukkan pukul 12.00 siang. Wajah Tika mulai pucat, dan langkah kakinya tak selincah pagi tadi. Mengingat Tika sebenarnya masih di usia transisi yang sangat muda, Ayah menghampirinya dengan penuh kasih sayang.

"Tika hebat sudah bertahan sampai Dzuhur. Mau buka puasa sekarang? Kita sebut puasa setengah hari, ya?" tawar Ayah, memberikan pilihan tanpa paksaan.

Namun, di sinilah keajaiban itu muncul. Tika menggeleng kuat-kuat. "Tidak, Ayah. Tika mau sampai Maghrib. Tika mau seperti orang-orang hebat di buku cerita yang sabar menunggu sampai langit warna jingga."

Pelajaran Tentang Proses

Tika membuktikan bahwa pendidikan karakter bukan tentang hasil instan, melainkan tentang proses dan penghargaan. Ia berproses dari rasa kantuknya, ia berproses menahan hausnya di bawah langit Riau, dan ia berproses menguatkan tekadnya.

Sore itu, saat bedug Maghrib bertalu-talu di Desa Tokiyem, Tika mereguk air putihnya dengan rasa syukur yang luar biasa. Ia berhasil. Bukan karena ia sempurna sejak waktu sahur, tapi karena ia tidak menyerah di tengah jalan. Dari Tika kita belajar: hargailah setiap langkah kecil anak dalam beribadah, karena di sanalah benih iman mulai tumbuh dengan bahagia. (BLQ & HNF)

Prev Article
Langgar Al Qosimi Jrengik Jadi Pusat Energi Ruhani: Dzikir 1...
Next Article
Komunitas yang Tak Tergerus Zaman: Solidaritas Ramadhan Musl...