Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

CERITA Ramadhan dan Cahaya Huruf-Huruf Surga

BANJARMASIN II ASSUFAH - Di sebuah desa kecil yang tenang, tinggal seorang anak kelas lima bernama Rafi. Setiap datang bulan suci, hatinya selalu bergetar menyambut Ramadhan. Tahun ini terasa berbeda. Guru mengaji di mushalla kampung berkata, “Ramadhan bukan hanya menahan lapar dan haus, tapi juga saat terbaik untuk bersahabat dengan Al-Qur’an.”

Rafi teringat firman Allah dalam Al-Qur'an bahwa bulan Ramadhan adalah bulan diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia. Ia pun bertekad, Ramadhan kali ini harus menjadi Ramadhan terbaiknya.

Hari-hari pertama puasa tidak mudah. Siang terasa panjang. Tenggorokannya kering. Teman-temannya banyak yang mengeluh. Bahkan ada yang diam-diam ingin membatalkan puasa. Rafi juga hampir menyerah. Namun setiap kali lelah datang, ia teringat sabda Nabi Muhammad ﷺ tentang keutamaan orang yang berpuasa di bulan Ramadhan. Ia membisikkan doa pelan-pelan agar diberi kekuatan.

Sore hari setelah sekolah, Rafi datang ke mushalla. Ia duduk bersila di depan ustaz. Bacaan Al-Qur’annya masih terbata-bata. Huruf “‘ain” dan “ghain” sering tertukar. Kadang ia merasa malu karena teman-temannya sudah lancar. Namun ustaz tersenyum, “Allah lebih mencintai anak yang bersungguh-sungguh belajar, meski terbata-bata.”

Sejak itu, Rafi membuat jadwal kecil. Setiap selesai Subuh, ia membaca satu halaman. Setelah Ashar, ia murojaah kembali. Sedikit demi sedikit bacaannya membaik. Hatinya pun terasa lebih tenang. Ia mulai merasakan bahwa puasa bukan hanya menahan diri, tetapi membersihkan hati.

Suatu malam, di sepuluh hari terakhir Ramadhan, mushalla dipenuhi jamaah. Rafi ikut i’tikaf bersama ayahnya. Saat membaca Al-Qur’an di tengah keheningan malam, ia merasakan getaran khidmah yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Air matanya menetes tanpa sadar. Ia merasa begitu dekat dengan Allah.

Lebaran pun tiba. Rafi bukan hanya bangga karena berhasil menuntaskan puasa sebulan penuh, tetapi karena ia berhasil khatam membaca Al-Qur’an untuk pertama kalinya. Ibunya memeluknya haru.

Sejak saat itu, Rafi memahami satu hal penting: puasa Ramadhan bukan sekadar kewajiban, melainkan kesempatan emas untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Ia belajar bahwa kesungguhan, kesabaran, dan cinta kepada Al-Qur’an akan mengantarkan siapa pun pada cahaya kebaikan.

Dan Ramadhan berikutnya, Rafi sudah tak lagi takut terbata-bata. Ia justru menunggu bulan suci itu dengan penuh rindu dan semangat belajar. (SB & FF)

Prev Article
Tabungan Surga di Saku Kecil Radit (Sebuah Cerita dibulan Pu...
Next Article
Kilau Embun di Hati Hanief: Puasa Sang Juara