Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Tabungan Surga di Saku Kecil Radit (Sebuah Cerita dibulan Puasa)

SAMPANG, JRENGIK SUMBER KUNING II ASSUFAH - Siang itu, matahari di atas kompleks terasa menyengat, namun teras masjid yang sepi memberikan keteduhan yang kontras. Jemaah sudah membubarkan diri, menyisakan langkah-langkah kaki yang menjauh menuju kesibukan dunia. Aku masih di sana, duduk termenung menikmati sisa-sisa kedamaian setelah salat Jumat.

Di sudut teras, seorang nenek tua duduk bersimpuh. Wajahnya adalah peta dari garis-garis lelah kehidupan. Di depannya, tumpukan kue tradisional yang masih banyak itu seolah menjadi beban berat bagi pundaknya yang renta. Satu plastik lima ribu rupiah. Demi rasa iba, kubeli satu, meski perutku sama sekali tak lapar.

Tak lama kemudian, seorang anak kecilโ€”mungkin baru kelas dua SDโ€”mendekat. Penampilannya rapi, khas anak sekolah. Ia tidak membeli satu, ia membeli sepuluh.

"Ini uangnya, Nek. Tapi kuenya untuk Nenek saja, supaya bisa dijual lagi ke orang lain," ucapnya polos sambil menyodorkan selembar lima puluh ribuan.

Aku melihat binar di mata nenek itu. Bukan sekadar binar karena dagangannya laku, tapi binar harapan. "Ya Allah, terima kasih Nak... Alhamdulillah, doa Nenek terkabul. Sekarang Nenek bisa beli obat untuk cucu yang sedang sakit."

Nenek itu pergi dengan langkah yang lebih ringan. Rasa penasaran membawaku memanggil anak itu. "Radit," katanya memperkenalkan diri.

"Radit, apa uang jajanmu memang sebanyak itu?" tanyaku.

Ia menggeleng pelan. "Tidak Pak. Papa cuma kasih sepuluh ribu sehari. Tapi saya tidak pernah jajan. Saya selalu bawa bekal dari rumah."

Hatiku mencelos. "Jadi, uang yang kamu kasih tadi adalah tabunganmu dari Senin sampai Jumat?"

"Betul, Pak. Supaya setiap hari Jumat saya punya lima puluh ribu untuk sedekah. Saya ingin pahalanya untuk Ibu saya yang sudah meninggal," jawabnya dengan nada yang begitu tulus. "Saya pernah dengar ceramah, ada seorang ibu yang diselamatkan dari api neraka karena anaknya bersedekah sepotong roti. Saya ingin Ibu saya bahagia di sana."

Aku tertegun. Di depanku berdiri seorang guru kecil yang sedang mengajarkan arti cinta yang melampaui kematian. Dengan mata berkaca-kaca, aku merogoh dompet. "Radit, hatimu mulia sekali. Ini, biar Bapak ganti uang tabunganmu tadi."

Radit tersenyum, lalu dengan sopan mendorong tanganku. "Terima kasih banyak, Pak. Tapi uang itu untuk keperluan Bapak saja. Saya masih kecil, tidak punya tanggungan. Bapak punya keluarga yang harus dinafkahi. Saya pamit dulu ya, Pak."

Ia menyalami dan mencium tanganku, lalu hilang di tikungan jalan.

Langkahku terbawa ke sebuah apotek tak jauh dari sana. Benar saja, si nenek penjual kue ada di sana, sedang menghitung uangnya di depan kasir dengan tangan gemetar. Harga obatnya empat puluh ribu. Segera kusodorkan uang lima puluh ribu yang tadi ditolak Radit kepada kasir.

"Saya yang bayar. Kembaliannya berikan pada Nenek ini," ucapku singkat.

Aku bergegas pergi sebelum nenek itu sempat mengucap terima kasih. Bukan karena aku tak butuh syukur, tapi karena aku merasa malu. Malu pada Radit, yang meski kecil, telah mengerti bahwa sedekah bukan soal sisa harta, melainkan soal seberapa besar ruang di hati kita untuk orang lain.

Pelajaran Berharga:

Terkadang, Tuhan mengirimkan "malaikat kecil" untuk menegur orang dewasa yang seringkali terlalu perhitungan dengan penciptanya. Mari ajarkan anak-anak kita bukan hanya tentang teori kebaikan, tapi tentang bagaimana menjadi tangan di atas.(Nafis & Balqis)

Prev Article
NAAT dan UIN MADURA Teken MOU Kolaborasi Strategis Tridharm...