Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Misteri Nasab Kesultanan Brunei Darussalam Berhasil Dibongkar Melalui Manuskrip Jawa dan Mindanao dalam Sidang Meja Bulat Internasional UMS 2026

SABAH, (12/2/2026) Sebuah tabir sejarah yang selama berabad-abad menyelimuti silsilah raja-raja di Nusantara, khususnya Kesultanan Brunei Darussalam, akhirnya berhasil disingkap secara terang benderang dalam perhelatan Sidang Meja Bulat Internasional Syekh Jumadil Kubra yang diselenggarakan di Universiti Malaysia Sabah (UMS) pada Rabu, 11 Februari 2026. Penemuan besar ini merupakan buah dari kerja keras selama lebih dari 24 bulan yang dilakukan oleh tim Lembaga Penelitian, Pencatatan, dan Pelestarian Silsilah (LP3SN) di bawah naungan Naqobah Ansab Aulia Tisโ€™ah (NAAT) Indonesia. Berdasarkan konfirmasi yang dilakukan oleh tim media Assufah kepada Ketua Umum NAAT Indonesia, KH. R Ilzamuddin Sholeh, yang didampingi oleh Wakil Ketua Gus Muksin (Kalimantan), Sekjen NAAT Dr. Subhan, Sekretaris LPSN Gus Bdr Yahya Imam Algiri (Surabaya), serta Badan Koordinasi dan Informasi Data Digital NAAT Gus Islah, disampaikan bahwa kejelasan nasab ini didasarkan pada kekuatan bukti literasi manuskrip primer dari tanah Jawa dan Mendanao. Jadi dalam paparannya dari Council Elders of Tabunawai, Mamaluk and Putuโ€™an Family. ditemuan berkaitan dengan silsilah Sultan Muhammad, Sultan Ahmad, dan Sultan Syarif Ali (Sultan Barkat Brunei) dibongkar berdasarkan penemuan manuskrip primer dari Mindanao yang disampaikan mengaskan bahwa Sultan Muhammad Syah bersaudara dengan Syamsu Tabaris Kebungsuan Satu dan Syarif Aulia/Ibrahim Asmara.

Adapun dalam naskah kuno manuskrip Jawa yang dijadikan rujukan utama dalam penelitian mendalam ini meliputi Serat Panengen Tepas Darah Dhalem Kesultanan Yogyakarta halaman 29-31, Serat Sejarah Ratu Yogyakarta halaman 13-14, Candrakanta Pakem Tembayat halaman 43-44, Poestoko Darah Agung halaman 14, serta Sarasilah Luluhur Ing Kadanurejan Ing Yogya halaman 154. Dari sekumpulan manuskrip otoritatif tersebut, dikonfirmasi bahwa Syekh Jumadil Kubra memiliki dua orang istri, yakni Siti Fatimah Kamarumi binti Sultan Abdul Hamid Rum dan Siti Fatimah Kawi binti Syekh Jakfar Sodiq Mekkah. Dari pernikahan pertama, dilahirkan lima putra-putri termasuk Sultan Maulana Muhyiddin Muhammad Al-Kubra (Gubernur Mekkah) dan Sultan Maulana Tajuddin Ahmad Al-Kubra (Gubernur Madinah), sementara dari pernikahan kedua dilahirkan 16 putra-putri lainnya, sehingga total keturunan langsung Syekh Jumadil Kubra berjumlah 21 orang.

Sejarah Kesultanan Brunei Darussalam sendiri secara tradisional bermula dari masa Awang Alak Betatar yang kemudian memeluk Islam dan bergelar Sultan Muhammad Shah pada abad ke-14. Namun, melalui penyandingan data NAAT, ditemukan fakta bahwa struktur kepemimpinan awal Brunei memiliki keterikatan darah yang sangat kuat dengan keturunan Syekh Jumadil Kubra. Disebutkan dalam hasil penelitian tersebut bahwa Sultan Muhammad Muhyiddin (1363-1402) memiliki dua orang putra, yaitu Sultan Syarif Ali (1425-1432) dan Sultan Abdul Majid Hasan (1402-1406) yang kemudian berpindah ke China. Sultan Syarif Ali, yang dalam catatan sejarah Brunei dikenal sebagai Barkat Ali, dikonfirmasi menikah dengan sepupunya sendiri, Paramisuli binti Ibrahim Asmara (Syarif Aulia). Dari pernikahan lainnya dengan Puteri Ratna Kusuma (putri dari Sultan Ahmad Tajuddin), dikaruniai putra bernama Sultan Sulaiman yang memerintah pada kurun waktu 1425-1485.

Ditemukan pula fakta sejarah yang menghubungkan jalur Mindanao dengan garis keturunan Syekh Ibrahim Asmara atau Syarif Aulia, yang juga merupakan ayah dari Sunan Ampel Surabaya. Sebelum menginjakkan kaki di tanah Jawa, Syekh Ibrahim Asmara diketahui menikah dengan putri lokal di Mindanao dan dikaruniai putri bernama Paramisuli yang kelak menjadi permaisuri di Brunei. Dari jalur ini pula lahir para pemimpin di Mindanao seperti Raja Tabunawai dan Raja Mamaluk. Hubungan kekerabatan yang sangat kompleks namun sistematis ini membuktikan bahwa wilayah Mindanao, Brunei, dan Jawa berada dalam satu payung kekeluargaan besar Dzurriyah Jumadil Kubra.

Data ini semakin diperkuat dengan pelacakan garis keturunan Syekh Samsu Tabaris (Kebungsuan Satu) yang memiliki keturunan di tanah Jawa hingga mencapai tokoh Joko Tingkir atau Sultan Hadiwijaya. Dikonfirmasi pula oleh tim delegasi NAAT bahwa Sayyid Muhammad Kebungsuan Kedua, yang dikenal sebagai sosok alim dan allamah, menikah dengan Putri Tonima binti Raja Mamaluk, yang secara silsilah merupakan sepupu tiga kali dari garis Sultan Syarif Ali bin Muhammad Muhyiddin bin Syekh Jumadil Kubra. Penemuan ini secara otomatis mengoreksi dan melengkapi narasi sejarah Kesultanan Brunei yang selama ini mungkin hanya dipandang sebagai entitas politik terpisah dari dinamika dakwah Wali Songo di Jawa.

Gus Islah Hamida sebagai penanggung jawab data digital menekankan bahwa seluruh informasi yang dipresentasikan di UMS ini telah diverifikasi silang dengan manuskrip-manuskrip yang tersebar di perpustakaan keraton dan koleksi pribadi yang valid. Melalui penegasan Ketua Umum NAAT dan para wakilnya, ditegaskan bahwa Kesultanan Brunei Darussalam bukan sekadar tetangga geografis bagi Indonesia dan Filipina, melainkan saudara sekandung dalam satu nasab besar Syekh Jumadil Kubra. Hasil sidang ini pun akhirnya disepakati untuk dijadikan rujukan utama dalam penulisan ulang sejarah silsilah raja-raja di Asia Tenggara agar tidak terjadi distorsi informasi di masa depan. Dengan dideklarasikannya kesimpulan ini, maka identitas kolektif sebagai bangsa serumpun yang disatukan oleh darah para Aulia telah berhasil dikukuhkan kembali di tanah Sabah. (SB,YHY,ILZ &ISL)

Prev Article
Silsilah Syekh Jumadil Kubra Digugat: Manuskrip Kuno Mindana...
Next Article
Dari Ziarah hingga e-Tol, KTA NAAT Dididorong Jadi Kartu Sak...