BREBES, JAWA TENGAH II ASSUFAH – Pelantikan Dewan Pengurus Wilayah (DPW) Provinsi Jawa Tengah Naqobah Ansab Auliya Tis'ah untuk masa khidmah 2026–2031 telah resmi dilaksanakan pada hari Sabtu, 14 Februari 2026. Kegiatan yang bernuansa khidmat tersebut diselenggarakan dengan mengambil tempat di lingkungan Pondok Pesantren Al Hasaniyah, Kedawon Larangan, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah. Berdasarkan pengamatan di lokasi, acara tersebut tampak dihadiri oleh berbagai unsur penting masyarakat, mulai dari jajaran ulama sepuh, kiai, tokoh agama, hingga aktivis pemuda. Tidak hanya itu, keterwakilan dari lembaga legislatif dan eksekutif yang berasal dari berbagai kabupaten serta kota di seluruh wilayah Jawa Tengah turut dilaporkan hadir guna menyaksikan prosesi bersejarah tersebut.
Pelaksanaan pelantikan bagi jajaran pengurus DPW NAAT Jawa Tengah ini dipimpin secara langsung oleh Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat (DPP) NAAT, KH. R. Ilzamuddin Sholeh. Sebelum inti prosesi dimulai, naskah Surat Keputusan (SK) DPP mengenai penetapan susunan kepengurusan untuk wilayah Jawa Tengah terlebih dahulu dibacakan oleh Sekretaris Jenderal DPP NAAT, Mohammad Subhan. Merujuk pada keterangan yang diberikan oleh panitia pelaksana melalui juru bicaranya, Gus Ahmad Munib Bil Ikhlas Al-Muriawi Al-Kalijagawi, ditegaskan bahwa seluruh rangkaian kegiatan telah disusun dan dipersiapkan secara sistematis sejak pagi hari. Proses registrasi bagi para peserta dilaporkan telah dibuka sejak pukul 08.00 WIB, yang kemudian diikuti dengan pembukaan acara secara formal pada pukul 09.00 WIB. Kesakralan acara semakin diperkuat dengan dilantunkannya ayat-ayat suci Al-Qur’an serta dikumandangkannya lagu kebangsaan Indonesia Raya dan Mars NAAT sebagai bentuk penegasan komitmen kebangsaan.
Dalam komposisi kepengurusan yang dikukuhkan tersebut, posisi Mustasyar atau dewan penasihat diisi oleh deretan ulama senior serta pengasuh pondok pesantren terkemuka yang ada di Jawa Tengah. Nama K.H. Ubaidullah Shodaqoh Al-Muriawi Al-Kalijagawi dari Pondok Pesantren Al-Itqon Semarang tercatat menduduki posisi sebagai Ketua Mustasyar. Selain itu, figur-figur besar lainnya seperti Prof. Dr. K.H. Abdul Hadi Ahmad Muthohar dari Ponpes Futuhiyyah Mranggen Demak serta Gus Taj Yasin Maemon (Wakil Gubernur Jawa Tengah) yang juga dilaporkan masuk ke dalam jajaran anggota Mustasyar. Pengisian posisi ini dipandang sebagai upaya untuk memastikan bahwa gerak organisasi selalu berada di bawah bimbingan para pemegang otoritas keagamaan yang mumpuni.
Selanjutnya, pada struktur Syuriah, keterlibatan tokoh-tokoh yang memiliki kedalaman ilmu kepesantrenan terlihat sangat dominan. Jabatan Rois Syuriah diamanahkan kepada Gus Nur Salim Al-Kalijagawi dari Kota Semarang, sementara tanggung jawab administratif keagamaan pada posisi Katib Syuriah diemban oleh R. Dani Sasmoko, M.Eng. Representasi daerah juga diperhatikan secara saksama, di mana nama-nama tokoh dari Solo, Tegal, Pemalang, Kebumen, hingga Semarang dilaporkan turut memperkuat jajaran Syuriah tersebut. Di sisi lain, pada jajaran eksekutif atau Tanfidziyah, kepemimpinan DPW NAAT Jawa Tengah untuk lima tahun ke depan dipercayakan kepada Dr. K.H.R. Nuridin Syamsuddin Al-Giri Al-Hafidz, S.H., M.Pd., seorang tokoh dari Brebes yang didapuk sebagai Ketua Tanfidziyah. Untuk posisi Wakil Ketua, jabatan tersebut diisi oleh para perwakilan yang berasal dari wilayah Tegal, Temanggung, dan Pekalongan, sehingga asas keterwakilan daerah nampak terpenuhi dengan baik. Struktur sekretariat dan bendahara juga dilaporkan telah disusun secara representatif dengan melibatkan kader-kader terbaik dari wilayah Semarang, Grobogan, Demak, Kudus, hingga Brebes.
Selain penguatan pada struktur inti, keberadaan sejumlah lembaga strategis di bawah naungan DPW NAAT Jawa Tengah juga turut disahkan. Lembaga Hukum, Pengkajian, dan Pengembangan SDM NAAT (LHKSN) dilaporkan dipimpin oleh Raden Imam Rosyadi, S.H., S.Ag. dari Grobogan. Bidang syiar agama melalui Lembaga Dakwah NAAT (LADUNI) diketuai oleh Kiai Rochimun dari Kabupaten Semarang, sementara urusan kependidikan melalui Lembaga Pendidikan NAAT (LAPAN) diamanahkan kepada K.H. Lukman Hakim dari Pemalang. Perhatian khusus juga diberikan pada Lembaga Penelitian, Pencatatan, dan Pelestarian Silsilah NAAT (LP3SN) yang dipimpin oleh Muhammad Ishlah Hamid Al-Qudusi dari Jepara. Lembaga ini disebut-sebut sebagai jantung keilmuan organisasi karena memegang peran krusial dalam menjaga keabsahan data genealogis para keturunan ulama dan auliya di Nusantara.
Urusan kesejahteraan juga tidak luput dari perhatian, di mana Lembaga Perekonomian, Kesejahteraan, dan Kemaslahatan NAAT (LPKKN) diketuai oleh R.T. Muhammad Faiq Wiromanggolo dari Batang. Di bidang seni, Lembaga Seni dan Kebudayaan NAAT (LSKN) dipercayakan kepada tokoh seni Dalang Ki Walet Raden Kaokab, SHI dari Tegal. Untuk urusan literasi dan informasi, Lembaga Penerbitan NAAT (LPN) diketuai oleh Kiai Abu Na’am dari Kudus, sementara pengelolaan data digital melalui Badan Komunikasi, Informasi, dan Data Digital (Bakorda) diserahkan kepada Muhammad Hasbi Hilmi dari Brebes. Terakhir, untuk mengakomodasi peran perempuan, Asosiasi Nyai-Ning Naqobah Ansab Auliya Tis’ah (ANNISA’) dilaporkan dipimpin oleh Ibu Hj. Nyai Alifah dari Brebes.
Sebelum prosesi sakral pembaiatan dilaksanakan, serangkaian pidato sambutan telah disampaikan di hadapan para hadirin. Dalam penyampaiannya, Ketua Panitia Gus Ahmad Munib menekankan bahwa pelantikan ini harus dijadikan sebagai momentum konsolidasi yang kuat bagi organisasi di Jawa Tengah. Pentingnya sinergi antara ulama, akademisi, dan birokrat dalam kepengurusan ini turut digarisbawahi. Sambutan dari pihak tuan rumah yang disampaikan oleh Dr. K.H. Nuruddin juga menyoroti urgensi pemeliharaan sanad, baik secara keilmuan maupun nasab, sebagai bagian tak terpisahkan dari khazanah peradaban Islam di tanah air. Pesantren ditegaskan memiliki beban moral untuk menjaga warisan sejarah tersebut.
Setelah melalui tahapan silaturahmi dan anjangsana antar calon pengurus yang berlangsung hingga tengah hari, kegiatan sempat dijeda untuk keperluan istirahat, shalat, dan makan siang. Prosesi pelantikan utama kemudian dilaporkan baru dimulai pada pukul 13.30 WIB. Setelah pembacaan SK kembali dipertegas, prosesi pembaiatan janji khidmah dipandu langsung oleh Ketua Umum DPP NAAT. Dalam janji tersebut, ditekankan komitmen para pengurus untuk menjalankan amanah dengan integritas tinggi, menjaga kehormatan nasab, serta berfokus pada kemaslahatan umat luas.
Kegiatan pelantikan ini juga dirangkaikan dengan pelaksanaan Tahlil Akbar sebagai sarana doa bersama demi kelancaran tugas kepengurusan baru. Setelahnya, Musyawarah Kerja Wilayah (Muskerwil) dilaporkan langsung digelar guna menyusun draf program kerja strategis untuk periode lima tahun mendatang. Hasil dari musyawarah tersebut dibacakan oleh Sekretaris DPW sebagai panduan operasional organisasi. Secara garis besar, langkah pelantikan ini dinilai sebagai upaya konsolidatif yang sangat strategis, mengingat posisi Jawa Tengah sebagai pilar sejarah Islam di Nusantara. Dengan telah dikukuhkannya kepengurusan ini, maka berbagai program kerja yang berkaitan dengan penelitian silsilah serta penguatan dakwah diharapkan dapat diimplementasikan secara lebih sistematis dan berkelanjutan. Acara ini kemudian secara resmi ditutup dengan doa bersama yang dipanjatkan bagi kedamaian bangsa dan persatuan seluruh elemen umat. (SB & YHY)
Space Iklan Tersedia
600x200
Prev Article
Dari Ziarah hingga e-Tol, KTA NAAT Dididorong Jadi Kartu Sak...
Next Article
1 Ramadhan 1447 H Ditetapkan Jatuh pada Kamis, 19 Februari 2...