Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Lokasi Patobin Bujuk Agung Toronan terungkap, dipersoalkan Dzurriyah dalam Peringatan Haul Akbar Ke-2

PAMEKASAN II ASSUFAHII โ€” Penyelenggaraan Haul Akbar ke-2 Bujuk Agung Toronan yang dipusatkan di Kompleks Maqbarah Bujuk Agung Toronan, Desa Larangan Badung, Kabupaten Pamekasan, pada Kamis, 13 Agustus 2026 (29 Shafar 1448 H), menghimpun ribuan keturunan (dzurriyah) dari berbagai daerah. Meski prosesi keagamaan sejak pukul 09.10 WIB hingga 13.00 WIB berlangsung khidmat dan tertata, dinamika terkait keabsahan historis dan tata kelola keorganisasian patobin menjadi perbincangan hangat di kalangan internal keluarga besar.

โ€‹Sorotan tajam sebelumnya disuarakan oleh H. Ismail dari Blega, Bangkalan, yang menyayangkan adanya anggapan atau klaim dari pihak tertentu bahwa setiap kegiatan keorganisasian maupun keagamaan harus mengantongi persetujuan berupa tanda tangan dari pihak patobin. Penilain tersebut didasarkan pada data historis yang diungkapkan oleh Mohammad Tohir selaku warga setempat (ahlul balad). Dalam penjelasannya, dicatat bahwa Bujuk Agung Toronan diperkirakan telah wafat sekitar 266 tahun yang lalu, dan sebanyak 98 persen keturunannya saat ini telah tersebar di luar kawasan Toronan maupun Patobin, sedangkan yang menetap di pemukiman lokal diperkirakan paling banyak hanya 2 persen.

โ€‹Persoalan mengenai patobin tersebut semakin memicu ruang diskusi setelah fakta sejarah lokasi situs patobin yang sebenarnya diuraikan oleh salah satu keturunan Bujuk Agung Toronan yang menetap di Toronan, H. Hamid. Berdasarkan penuturan H. Hamid, situs patobin asli Bujuk Agung Toronan sejatinya berlokasi di sebelah barat Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bereโ€™ Leke, Desa Larangan Badung, tempat di mana jejak fondasi dan bangunan rumah bersejarah tersebut masih berdiri dan dapat dijumpai hingga hari ini.

โ€‹Lebih lanjut, H. Hamid menyatakan bahwa lokasi patobin autentik Bujuk Agung Toronan tersebut saat ini ditempati oleh Bibik Muโ€™a. Adapun area Kompleks Pondok Pesantren Miftahul Ulum Bereโ€™ Leke dipahami sebagai bagian dari pekarangan atau halaman terluar dari struktur situs patobin utama. Atas dasar bukti keberadaan fisik dan silsilah penempatan lokasi tersebut, klaim dari pihak-pihak tertentu yang mengatasnamakan sebagai pengelola patobin dinilai masih diragukan keabsahannya serta dianggap belum tepat secara fakta historis.

โ€‹Kendati polemik mengenai keabsahan dan lokasi patobin mengemuka, suasana kekeluargaan dan antusiasme peziarah dalam mengikuti rangkaian haul tidak terganggu. H. Ismail mengapresiasi tinggi pelaksanaan Haul Akbar ke-2 ini sebagai ajang silaturahmi yang sangat berharga bagi para dzurriyah untuk saling mengenal sekaligus nyabis (berziarah) ke makam leluhur. Beliau mengimbau agar keutuhan dan kekompakan seluruh keturunan terus dijaga, serta mendorong agar penyelenggaraan Haul Akbar pada tahun-tahun mendatang dapat dikemas secara lebih megah, transparan, dan melibatkan seluruh pilar dzurriyah yang tersebar di pelbagai wilayah Nusantara. (IRA & IKA)

Prev Article
Dzurriyah Bujuk Agung Toronan Pertanyakan Aturan Tanda Tanga...
Next Article
Jejak Cucu Raden Azhar Bagandan di Sampang: Merawat Fragmen...