SAMPANG โ Sejarah syiar Islam dan penataan sosial di Tanah Madura senantiasa menyimpan lembaran emas yang diwariskan secara turun-temurun melalui tradisi lisan (pitutur luhur) dan manuskrip kuno. Salah satu fragmen sejarah yang kini kembali benderang adalah rekam jejak penyebaran nasab dan dakwah cucu Raden Azhar Bagandan Pamekasan di Madura Barat, yang bermula dari peristiwa bersejarah bertajuk "Babat Tanah Sumber Kuning" di Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang.
Perjalanan spiritual dan kemasyarakatan ini dipelopori oleh seorang ulama muda kharismatik, Bujuk Abdul Hisan (dalam beberapa literatur lisan juga disapa Abdul Khisom). Beliau merupakan figur pendakwah yang tidak hanya membawa misi Rukhiyah Islamiyah (dakwah keagamaan), tetapi juga Rukhiyah Wathoniyahโsebuah gerakan bakti sosial, penguatan ekonomi rakyat, hingga penataan tata kelola pemerintahan lokal di masa silam.
Sanad Nasab Agung dan Kedalaman Keilmuan
Bujuk Abdul Hisan berasal dari Panggung Wetan, Toronan, Kabupaten Pamekasan. Secara silsilah, beliau memegang pancer nasab yang tersambung kepada para wali pendiri peradaban di Madura dan Jawa.
Berdasarkan silsilah manuskrip, Abdul Hisan merupakan putra dari Bujuk Panggung Wetan Toronan (tercatat Kyai Bitan alias Abu Janiyah/Abu Maniyah Kokkoan Sumenep) Bin Bujuk Panggung Toronan (Kyai Muhtadi yang bersanding dengan Nyai Buarren Binti Raden Azhar Bagandan Pamekasan) Bin Agung Toronan (Kyai Abdurrahman + Nyai Maryam) Bin Raden Khotib Saloklok Bin Syiz Sumenep Bin Syaikhona Zainal Abidin (Sunan Cendana Kwanyar Bangkalan).
Sebelum melangkahkan kaki ke arah barat Madura, Abdul Hisan Muda telah menempuh gemblengan keilmuan yang matang. Di samping mendapat restu dan perintah dari orang tua serta para gurunya, beliau menimba ilmu kepada Ulama Masyhur di Patapan Bangkalan, yakni Kyai Abdul Adzim.
Catatan manuskrip kuno mengabadikan perjalanan keilmuan tersebut dalam bait kalimat:
โAnandi Kyai Prajjan Lan Kyai Sumber Kuning Bindara Hisan Tedda' saking toronan Mekasan iki Angaji Dateng Kyai Abdul Adzim Patapan Bangkalan.โ
Kematangan ilmu agama dan kepekaan sosial inilah yang menjadikan sosok Abdul Hisan tampil sebagai pendakwah yang adaptif, komunikatif, dan sangat elegan saat berinteraksi dengan masyarakat lokal.
Asal-usul Nama Magug dan Harapan di Kampung Fride
Dalam penelusuran sejarah lokal, perjalanan dakwah membawanya tiba di Desa Kotah, Kecamatan Jrengik, Sampang. Di tempat ini, Abdul Hisan disambut dengan hangat oleh seorang tokoh masyarakat bernama Angrenih (Bujuโ Angrenih Kotah Jrengik) yang kemudian memfasilitasi tempat tinggal sementara di Kampung Dampol.
Dinamika menarik terjadi saat istri dari Abdul Hisan mengalami masa adaptasi di Kampung Dampol. Dalam bahasa Madura, kondisi termenung, diam, dan murung karena kurang betah disebut dengan istilah Magug. Untuk mengenang peristiwa melankolis tersebut, lokasi tempat tinggal sementara itu abadi dikenal masyarakat hingga kini dengan nama Dusun Magug.
Menyadari ketidaknyamanan sang istri, Abdul Hisan dengan bijak meminta petunjuk Angrenih untuk berpindah lokasi. Angrenih kemudian menuntun rombongan menembus rimbunnya hutan belantara di ujung utara Desa Kotah menuju daerah terpencil yang saat itu dikenal sebagai Kampung Fride.
Di tengah perjalanan menembus rimbunnya hutan, terjadi dialog intelektual dan spiritual yang mendalam antara Abdul Hisan dan Angrenih. Percakapan mereka melintasi berbagai topik sosial, politik kerajaan, hingga masa depan keagamaan daerah tersebut. Dari kedekatan emosional inilah, keluar sebuah doa sekaligus ikhtiar luhur dari Abdul Hisan:
"Semoga kelak, keturunan saya dapat menyambung ikatan kekeluargaan dengan keturunanmu, Angrenih."
Peta Sosial Hutan Jrengik Kuno dan Terwujudnya Doa Leluhur
Catatan pitutur para sesepuh Sumber Kuning mencatat bahwa kawasan hutan Jrengik masa itu telah memiliki tatanan kepemimpinan lokal yang disegani, di antaranya Bujuk Panji (saudara kandung Bujuk Dambik dan Bujuk Dhari), Bujuk Sannik, serta Bujuk Pakah.
Estafet dakwah dan doa Bujuk Abdul Hisan akhirnya terwujud secara nyata pada generasi putranya, Abdul Qosim. (Abdul Qosim merupakan putra Abdul Hisan dari pernikahannya dengan cucu ulama besar, Nyai Aminah Lembung Bangkalan).
Setelah dewasa, Abdul Qosim meminang Nyai Dambik, putri asli Kampung Fride yang juga merupakan saudara kandung dari Bujuk Panji (area Sumber Kuning kini), Bujuk Dhari, dan Abu Musa Al โAdi (Buker). Sebelum menikah, Nyai Dambik memeluk agama Buddha, lalu dengan ikhlas memeluk Islam setelah dipersunting Abdul Qosim. Dari pernikahan ini lahir Bujuk Gulun BerKuning (Yahya), sekaligus mengunci ikatan kekeluargaan antara pancer Toronan Pamekasan dengan tokoh lokal Jrengik.
Tirakat Nyai Kobung dan Lahirnya 12 Tokoh Penyebar Syiar
Pasca wafatnya Nyai Dambik di usia muda, Abdul Qosim melanjutkan membina rumah tangga bersama seorang perempuan salehah bernama Nyai Kobung (Bujuk Kobung). Gelar "Nyai Kobung" disematkan masyarakat karena ketakwaan dan laku tirakatnya yang luar biasa; beliau hampir seluruh waktunya beribadah, membaca, dan menghafal Al-Qur'an di dalam surau (kobung).
Dari rahim perempuan hafidzah inilah lahir para tokoh penyebar syiar Islam (tercatat 12 keturunan dengan 11 nama pancer utama) yang memencarkan nasab ke berbagai wilayah:
- Bujuk Mustofa (Sumber Anyar) โ keturunannya meluas ke Majengan, Blega, Jumiang, Bunder, hingga Pademawu Pamekasan.
- Nyai Robiโa (Bujuk Qorib Kotah) โ keturunannya menyebar ke Karongan, Torjun, Badung Proppo, Balung Jember, Situbondo, dan Malang.
- Bujuk Hisyam (Torjun) โ keturunannya berada di Torjun, Mlokorejo Jember, Lumajang, dan Malang.
- Bujuk Samid (Menetap di Sumber Kuning).
- Bujuk Ishaq (Taman Jiken) โ keturunannya meluas ke Lan Bulan Baturasang, Glagas, Tanjung Bumi, dan Buker.
- Nyai Muslihah (Menetap di Sumber Kuning).
- Nyai Nidhaโ (Rosep Blega) โ keturunannya mendominasi kawasan Blega, Pramian, dan Pangarengan Torjun.
- Nyai Sofiya (Banyuwates) โ keturunannya berada di Lembenan, Kebun Jeruk, Mlajeh Bangkalan, Tanjung Bumi, dan Surabaya.
- Bujuk Hammin (Menetap di Sumber Kuning).
- Mauludin (Pahing Blega).
- Bujuk K. Abdurrahman / Bujuk Anom (Sumber Kuning) โ keturunannya meluas ke Blega, Galis, Tanah Merah, hingga Jebunih.
Sumber Kuning: Murni Nasab, Abadi Sebagai Mata Air Keberkahan
Kini, kawasan yang dahulunya berupa belantara hutan Kampung Fride telah bertransformasi total menjadi pusat peradaban agama dan sejarah yang hidup, yang dikenal luas dengan nama Kampung Sumber Kuning, Desa Jrengik, Kabupaten Sampang.
Silsilah dan jejak perjuangan ini mengonfirmasi bahwa keturunan Raden Azhar Bagandan Pamekasan yang berada di Dusun Sumber Kuning Jrengik Sampang adalah sah secara keilmuan, sejarah, dan dokumen manuskrip. Nama "Sumber Kuning" tak lagi sekadar batasan titik geografis, melainkan menjadi simbol abadi dari mata air ilmu, keberkahan nasab, serta kejayaan dakwah Islam yang mengalir dari Pamekasan hingga merambah ke pelosok Jawa Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), dan seantero Nusantara.
Disarikan dari Catatan Sejarah & Penelusuran Munsib Sumber Kuning Jrengik Sampang: Yazid Bustami & Subhan Muhammad.
Space Iklan Tersedia
600x200