Search

Saved articles

You have not yet added any article to your bookmarks!

Browse articles
Newsletter image

Berlangganan Newsletter Kami

Dapatkan update berita terkini langsung ke email Anda. Bergabunglah dengan ribuan pembaca kami!

Kami tidak akan mengirim spam!

GDPR Compliance

We use cookies to ensure you get the best experience on our website. By continuing to use our site, you accept our use of cookies, Privacy Policy, and Terms of Service.

Komunitas "Jangan Lupa Bahagia" Pamekasan Gelar Healing Special 2026 di Yogyakarta

YOGYAKARTA II MEDIA ASSUFAH — Di tengah hantaman kebijakan efisiensi finansial yang belakangan ini diterapkan oleh sebuah Yayasan Pendidikan Islam di Pamekasan berupa pemotongan gaji (salary) para guru, sebuah teladan tentang keteguhan mental dan tawakal tingkat tinggi justru ditunjukkan oleh sekelompok pendidik. Alih-alih larut dalam keluh kesah, sebuah komunitas yang menamakan diri mereka "Jangan Lupa Bahagia"—yang beranggotakan para ustadzah pengajar lembaga pendidikan Islam tersebut—justru memilih untuk tetap melangkah optimistis. Kegiatan tahunan bertajuk Healing Special 2026 sukses dilaksanakan dengan destinasi Kota Budaya, Yogyakarta.

Berdasarkan data yang dihimpun dari sumber tepercaya, Ustadzah Sulistina Maulana Grup, agenda liburan ini bukanlah sekadar ajang bersenang-senang. Kegiatan ini merupakan ritual tahunan yang secara kompak dijaga konsistensinya setelah selama satu tahun penuh para ustadzah mengabdikan diri, pikiran, dan waktu mereka menjadi garda terdepan pembelajar anak bangsa di sekolah Islam Pamekasan.

Manifestasi Keyakinan dan Rencana Perjalanan yang Matang

Kebijakan pengurangan pendapatan dari pihak yayasan disikapi dengan dada lapang dan keyakinan spiritual yang kokoh. Komunitas ini sama sekali tidak gentar; sebaliknya, sebuah keyakinan kolektif digaungkan bahwa pintu rezeki tidak pernah dikunci oleh kebijakan manusia, melainkan dijamin sepenuhnya oleh Tuhan Allah yang Maha Kaya.

Kemandirian finansial dan manajemen yang rapi dibuktikan melalui skema perjalanan yang terencana dengan sangat matang. Healing Special 2026 dirancang untuk ditempuh selama 3 hari dengan durasi menginap 2 malam. Perjalanan dimulai dari Kabupaten Pamekasan menuju Surabaya dengan menumpangi mobil carteran yang telah dipesan khusus. Sesampainya di Kota Pahlawan, perjalanan panjang menuju Yogyakarta dilanjutkan dengan menaiki moda transportasi kereta api, menyajikan pemandangan lanskap Jawa yang menenangkan sepanjang jalur rel.

Setibanya di Kota Gudeg, kenyamanan para pejuang pendidikan ini tetap menjadi prioritas utama. Sebuah hotel berbintang empat telah dipilih sebagai tempat bermalam dan melepas penat. Guna mendukung mobilitas yang tinggi tanpa mengurangi kenyamanan, armada mobil antar-jemput khusus disediakan selama 24 jam penuh untuk mengantarkan seluruh peserta menuju ke setiap objek wisata yang berada di Yogyakarta.

Solidaritas Sembilan Ustadzah Pembawa Kebahagiaan

Kekompakan komunitas ini tercermin dari kehadiran penuh para anggotanya. Sebanyak 9 (sembilan) ustadzah tangguh tercatat sebagai peserta aktif yang mengikuti seluruh rangkaian kegiatan Healing Special 2026. Nama-nama yang menginspirasi ini antara lain: (1) Fatmafillah (2) Sulistina (3) Kuratul Aini (4) Rohemah (5) Ita Irianti (6) Lailatul Qomariyah (7) Sri Wahyuni (8) Annisa Irma. (9) Siska Sriwahyuni

Raut kebahagiaan dan kelegaan tampak jelas di wajah setiap peserta sejak menapakkan kaki pertama kali di stasiun kereta api Yogyakarta hingga menuju penginapan walaupun dengan biaya mandiri.

Menjelajahi Setiap Sudut Keindahan Yogyakarta

Selama tiga hari di Yogyakarta, agenda perjalanan diisi dengan mengunjungi seluruh objek wisata ikonik yang kaya akan nilai sejarah, budaya, dan keindahan alam. Berkat fasilitas mobil antar-jemput yang siaga, tidak ada satu pun destinasi utama yang terlewatkan oleh rombongan ustadzah dari Madura ini.

Pagi hari pertama diisi dengan kunjungan ke kemegahan Keraton Yogyakarta, di mana nilai-nilai luhur kebudayaan Jawa dipelajari langsung dari dekat. Perjalanan kemudian diteruskan menuju kawasan bersejarah Taman Sari, sebuah situs bekas pemandian istana yang menawarkan arsitektur eksotis peninggalan masa lampau.

Saat matahari mulai bergeser ke barat, rombongan diantarkan menuju keindahan alam pantai selatan, yakni Pantai Parangtritis. Di tempat ini, deburan ombak dan hamparan pasir luas dimanfaatkan sebagai sarana kontemplasi untuk mengagumi kebesaran ciptaan-Nya.

Pada hari kedua, petualangan yang memacu adrenalin telah disiapkan melalui agenda Lava Tour menggunakan mobil jip terbuka di kawasan Gunung Merapi. Destinasi ini tidak hanya menyajikan pemandangan alam yang memesona, tetapi juga memberikan edukasi mendalam mengenai jejak-jejak peristiwa alam masa lalu. Setelah dari lereng Merapi, perjalanan diarahkan menuju Candi Prambanan, kompleks candi Hindu terbesar di Indonesia, di mana relief-relief indah yang sarat akan sejarah dinikmati dengan penuh kagum.

Malam harinya, denyut nadi kota dirasakan langsung di kawasan legendaris Jalan Malioboro dan Pasar Beringharjo. Di pusat perbelanjaan ini, wisata kuliner mencicipi Gudeg khas Yogyakarta dinikmati bersama, disusul dengan agenda berburu buah tangan tradisional berupa batik dan kerajinan tangan untuk dibawa pulang ke Pamekasan.

Sebelum perjalanan pulang dimulai pada hari ketiga, rencananya kunjungan terakhir dialokasikan ke kawasan perbukitan Tebing Breksi, sebuah destinasi wisata kreatif berbasis batuan kapur yang artistik, yang melambangkan bahwa dari sesuatu yang keras dan penuh tantangan, bisa dilahirkan sebuah keindahan yang dikagumi banyak orang—sebuah filosofi yang sangat lekat dengan kondisi perjuangan para ustadzah saat ini.

Kembali dengan Energi Baru

Melalui kegiatan Healing Special 2026 ini, sebuah pesan kuat telah disampaikan oleh Komunitas "Jangan Lupa Bahagia". Bahwa kebahagiaan dan kesehatan mental seorang pendidik tidak boleh digantungkan pada lembaran angka yang diberikan oleh manusia, melainkan pada kelapangan hati dan rasa syukur kepada Sang Pencipta. Sekembalinya dari Yogyakarta, energi baru, semangat mengajar yang segar, serta optimisme yang membubung tinggi dipastikan akan kembali dibawa oleh kesembilan ustadzah ini ke dalam ruang-ruang kelas di Pamekasan demi masa depan generasi Islam yang gemilang. (Safira & Rumman)

Prev Article
The Leadership of Availability: Cultivating Equity from Stat...