Kisah ini merupakan sebuah fragmen sejarah dan pitutur luhur yang diwariskan secara turun-temurun di tanah Madura. Perjalanan ini bermula dari sebuah peristiwa penting yang dikenal sebagai "Babat Tanah Sumber Kuning", sebuah ikhtiar spiritual dan sosial yang dipelopori oleh seorang ulama muda kharismatik bernama Bujuk Abdul Hisan (beberapa literatur lisan juga menyebutnya Abdul Khisom).
Abdul Hisan berasal dari ujung timur Pulau Garam, tepatnya dari Panggung Wetan, Toronan, Kabupaten Pamekasan. Beliau merupakan putra dari Bujuk Abdul Hisan Bin Bujuk Wetan Panggung Toronan. Didorong oleh panggilan jiwa untuk menyebarkan syiar Islam, Abdul Hisan Muda melakukan perjalanan panjang ke arah barat Madura. Misi beliau tidak hanya mencakup Rukhiyah Islamiyah (dakwah keagamaan), tetapi juga Rukhiyah Wathoniyah, yaitu bakti sosial-kemasyarakatan serta penataan tata kelola pemerintahan lokal.
Singgah di Kotah: Asal-usul Nama Magug
Perjalanan dakwah yang melelahkan membawa Abdul Hisan tiba di area Madura Barat, tepatnya di Desa Kotah, Kecamatan Jrengik, Kabupaten Sampang. Karena hari sudah menjelang malam, beliau memutuskan untuk beristirahat dan bermalam di daerah tersebut.
Di tempat inilah takdir mempertemukannya dengan seorang penduduk lokal yang berhati mulia bernama Angrenih (yang kelak dikenal oleh masyarakat setempat sebagai Bujuโ Angrenih Kotah Jrengik). Dengan penuh keramahan, Angrenih menyambut sang ulama dan membawanya beserta sang istri untuk tinggal sementara di sebuah pemukiman bernama Kampung Dampol.
Namun, adaptasi di tempat baru tidak selalu mudah. Selama beberapa hari tinggal di Kampung Dampol, istri Abdul Hisan merasa kurang betah. Beliau sering kedapatan termenung, diam, dan murung. Dalam bahasa Madura, kondisi termenung dan tidak betah ini disebut dengan istilah Magug. Untuk mengenang peristiwa melankolis tersebut, lokasi tempat istri Bujuk Abdul Hisan sering termenung itu hingga kini abadi dan dikenal oleh masyarakat dengan nama Magug.
Menyadari sang istri tidak merasa nyaman, Abdul Hisan dengan bijak menyampaikan kepada Angrenih bahwa mereka harus berpindah tempat. Angrenih yang setia dan menghormati tamunya pun menyetujui hal tersebut.
Perjalanan Menuju Kampung Fride dan Sebuah Harapan
Angrenih kemudian memandu Abdul Hisan beserta istrinya melanjutkan perjalanan menembus rimbunnya hutan belantara di ujung barat utara Desa Kotah. Tujuan mereka adalah sebuah daerah terpencil yang saat itu disebut Kampung Fride.
Perjalanan menerobos hutan tersebut memakan waktu yang cukup lama. Namun, alih-alih terasa melelahkan, perjalanan itu diisi dengan percakapan yang sangat hangat dan berbobot. Sepanjang jalan dari Magug Dampol menuju Kampung Fride, Abdul Hisan Muda dan Angrenih terlibat dalam obrolan santai yang mendalam. Mereka mendiskusikan berbagai hal, mulai dari situasi daerah, kondisi sosial masyarakat, nilai-nilai agama, urusan ekonomi, hingga konstelasi politik kerajaan yang sedang berkembang masa itu.
Kedekatan emosional dan intelektual yang terbangun selama perjalanan memicu sebuah harapan besar di hati sang ulama. Begitu mereka tiba di sebuah perkampungan di tengah hutan belantara tersebut, Abdul Hisan Muda menatap Angrenih dan menyampaikan sebuah doa sekaligus harapan:
"Semoga kelak, keturunan saya dapat menyambung ikatan kekeluargaan dengan keturunanmu, Angrenih."
Sebuah harapan luhur yang kelak di kemudian hari benar-benar menjadi kenyataan melalui ikatan pernikahan keturunan mereka.
Peta Sosial Hutan Jrengik Kuno
Berdasarkan catatan sejarah dan pitutur (cerita lisan) dari para sesepuh Somber Kuning Jrengik, kawasan hutan belantara Jrengik saat itu sebenarnya tidak sepenuhnya kosong. Sudah ada beberapa tokoh lokal berpengaruh yang disegani oleh masyarakat, di antaranya:
- Bujuk Panji, yang memiliki hubungan saudara kandung dengan Bujuk Dambik dan Bujuk Dhari.
- Bujuk Sannik.
- Bujuk Pakah.
Kehadiran tokoh-tokoh ini menandai bahwa wilayah tersebut memiliki dinamika sosial dan kepemimpinan lokal yang kuat sebelum kedatangan keluarga besar Abdul Hisan.
Pernikahan Abdul Qosim dan Terwujudnya Doa Leluhur
Waktu terus berjalan, dan estafet perjuangan Abdul Hisan dilanjutkan oleh putranya yang bernama Abdul Qosim. Abdul Qosim sendiri lahir dari pernikahan Abdul Hisan dengan seorang perempuan yang merupakan cucu dari ulama besar, Nyai Aminah Lembung Bangkalan.
Setelah dewasa, Abdul Qosim Bin Abdul Hisan menikah dengan seorang perempuan asli Kampung Fride bernama Nyai Dambik. Nyai Dambik ini bukan orang sembarangan; beliau adalah saudara kandung dari tokoh-tokoh berpengaruh yang telah disebutkan sebelumnya, yaitu Bujuโ Panji (yang kini areanya disebut Kampung BerKuning), Bujuโ Dhari, dan Abu Musa Al โAdi (Buker).
Konon, sebelum menikah, Nyai Dambik memeluk agama Budha. Namun, setelah dipersunting oleh Abdul Qosim, beliau dengan sukarela memeluk agama Islam. Dari pernikahan suci ini, lahir seorang putra bernama Yahya, yang di kemudian hari dikenal luas oleh masyarakat sebagai Bujuk Gulun BerKuning. Pernikahan ini sekaligus menggenapi harapan lama Bujuk Abdul Hisan untuk menyatukan keturunannya dengan tokoh lokal setempat.
Kisah Kesalehan Nyai Kobung dan Lahirnya 12 Tokoh
Perjalanan hidup membawa takdir lain. Karena Nyai Dambik wafat di usia yang relatif muda, Abdul Qosim kemudian menikah lagi dengan seorang perempuan salehah bernama Nyai Kobung (Bujuk Kobung).
Masyarakat menyematkan nama "Nyai Kobung" karena keluhuran budi dan laku tirakatnya yang luar biasa. Beliau dikenal hampir tidak pernah turun atau keluar dari kobungโyang dalam istilah modern saat ini dikenal dengan sebutan surau atau mushola. Sepanjang hari, hidupnya didedikasikan penuh untuk membaca, merenungkan, dan menghafal Al-Qur'an di dalam surau tersebut.
Dari rahim perempuan yang suci dan hafidzah inilah lahir 11 orang anak (catatan pitutur menyebutkan total keturunan berjumlah 12, dengan 11 nama tokoh besar yang tercatat dalam sejarah syiar regional), yaitu:
- Bujuk Mustofa (yang kelak berdakwah di Sumber Anyar)
- Nyai Robiโa (dikenal sebagai Bujuk Qorib Kotah)
- Bujuk Hisyam (yang menetap di Torjun)
- Bujuk Samid (menetap di Sumber Kuning)
- Bujuk Ishaq (menetap di Taman Lan Bulan)
- Nyai Muslihah (menetap di Sumber Kuning)
- Nyai Nidhaโ (menetap di Rosep Blega)
- Nyai Sofiya (menetap di Banyuwates)
- Bujuk Hammin (menetap di Sumber Kuning)
- Mauludin (menetap di Pahing Blega)
- Bujuk K. Abdurrahman (yang dikenal sebagai Bujuk Anom, menetap di Sumber Kuning).
Warisan Abadi Sumber Kuning
Melalui keturunan-keturunan Abdul Qosim dan Nyai Kobung inilah, syiar Islam berkembang masif melintasi batas-batas wilayah Sampang hingga Bangkalan. Kampung yang dahulunya berupa hutan belantara, tempat persinggahan yang penuh rintangan, kini bertransformasi menjadi sebuah pusat spiritualitas dan sejarah yang hidup.
Perkampungan tempat babat tanah pertama, diskusi panjang di tengah hutan, hingga tempat lahirnya para wali lokal tersebut, hingga saat ini dikenal luas oleh masyarakat Madura dengan nama Kampung Sumber Kuning, Desa Jrengik, Kabupaten Sampang. Sebuah nama yang tidak hanya merujuk pada letak geografis, melainkan simbol dari sumber mata air ilmu, keberkahan, dan kejayaan dakwah Islam yang tak pernah kering.(NQ & SB)
Space Iklan Tersedia
600x200