Pendahuluan: Membongkar Sekat Sejarah Kawasan
Selama berabad-abad, sejarah kesultanan-kesultanan di Asia Tenggara seringkali dipahami sebagai entitas yang berdiri sendiri-sendiri. Narasi sejarah nasional yang kaku kerap memisahkan antara dinamika politik di Borneo dengan gerakan dakwah di Pulau Jawa. Namun, temuan terbaru yang diteliti oleh penulis mematahkan isolasi historis tersebut. Melalui riset mendalam selama 24 bulan Penulis bersama Lembaga Penelitian, Pencatatan, dan Pelestarian Silsilah (LP3SN) NAAT Indonesia, sebuah tabir besar terbuka: Kesultanan Brunei Darussalam dan jaringan Walisongo di Jawa memiliki akar silsilah yang tunggal dan tak terpisahkan, yakni melalui figur sentral Syekh Jumadil Kubra.
Landasan Filologis: Otoritas Manuskrip Jawa
Penelitian ini tidak didasarkan pada asumsi atau tradisi lisan semata, melainkan pada kekuatan filologis dari naskah-naskah primer yang tersimpan di jantung kebudayaan Jawa. Penggunaan naskah seperti Serat Panengen Tepas Darah Dhalem Kesultanan Yogyakarta, Serat Sejarah Ratu Yogyakarta, hingga Poestoko Darah Agung memberikan legitimasi akademik bahwa Syekh Jumadil Kubra bukan sekadar tokoh legendaris, melainkan realitas sejarah yang memiliki silsilah yang sangat detail.
Dalam naskah-naskah tersebut, tercatat secara presisi bahwa Syekh Jumadil Kubra memiliki 21 anak dari dua istri: Siti Fatimah Kamarumi (putri Sultan Abdul Hamid Rum) dan Siti Fatimah Kawi (putri Syekh Jakfar Sodiq Mekkah). Distribusi keturunan inilah yang kemudian membentuk lanskap sosial-politik di Madinah, Mekkah, Pasai, Jawa, hingga ke Borneo dan Mindanao.
Sultan Syarif Ali dan Poros Brunei-Mindanao-Jawa
Salah satu temuan paling provokatif namun ilmiah dalam kajian ini adalah posisi Sultan Syarif Ali (Sultan Brunei ke-3, 1425-1432). Dalam narasi lokal Brunei, beliau dikenal sebagai "Sultan Barkat" yang berasal dari Taif. Namun, penyandingan data dengan manuskrip Jawa dan Mindanao mengungkap identitas yang lebih spesifik: beliau adalah putra dari Sultan Maulana Muhyiddin Muhammad Al-Kubra (Gubernur Mekkah), yang merupakan putra langsung Syekh Jumadil Kubra.
Hubungan ini semakin erat ketika kita meninjau aspek pernikahan politik yang terjadi. Sultan Syarif Ali tercatat menikahi sepupunya, Paramisuli binti Ibrahim Asmara (Syarif Aulia). Ibrahim Asmara adalah tokoh kunci dalam dakwah Islam di Nusantara dan merupakan ayah dari Sunan Ampel (sesepuh Walisongo). Dengan demikian, secara genealogi, Sultan Brunei ke-3 adalah keponakan sekaligus menantu dari Ibrahim Asmara. Jalur ini membuktikan bahwa darah kepemimpinan di Brunei dan darah kewalian di Jawa mengalir dari sumber yang sama.
Hubungan Organik dengan Walisongo: Bukan Sekadar Hubungan Diplomatik
Hubungan antara Kesultanan Brunei dan Walisongo di Jawa selama ini sering dianggap hanya sebatas hubungan dagang atau diplomatik antarnegara Islam. Namun, opini ilmiah ini menegaskan bahwa hubungan tersebut bersifat organik-biologis.
Syekh Ibrahim Asmara (Syarif Aulia) menjadi penghubung utama. Sebelum beliau menetap di Jawa dan menurunkan para Wali (seperti Sunan Ampel), beliau telah memiliki jejak di Mindanao dan menikah dengan putri lokal. Dari sana lahir Paramisuli yang kemudian menjadi bagian dari sejarah besar Brunei. Di sisi lain, keturunan dari istri ketiganya, Diyah Dewi Asmara (Putri Champa), melahirkan para penyebar Islam di Jawa.
Selain itu, jalur dari Syekh Samsuddin dan Syekh Samsutaberis (putra Jumadil Kubra dari istri kedua) menunjukkan bagaimana trah ini menyebar ke Jawa hingga melahirkan tokoh-tokoh besar seperti Ki Ageng Pengging dan Sultan Hadiwijaya (Joko Tingkir). Fakta bahwa Sayyid Muhammad Kebungsuan 2 (keturunan Samsutaberis) menikahi Putri Tonima (cicit Sultan Syarif Ali dari Brunei) menunjukkan adanya upaya sadar untuk terus menjaga kemurnian nasab antara trah penguasa di Borneo/Mindanao dengan trah pemuka agama di Jawa.
Sekilas Sejarah Kesultanan Brunei: Perspektif Baru
Kesultanan Brunei mencapai masa keemasannya melalui integrasi nilai-nilai keislaman yang dibawa oleh para keturunan Syekh Jumadil Kubra. Jika Sultan Muhammad Shah (Sultan pertama) meletakkan pondasi negara, maka Sultan Syarif Ali-lah yang menyempurnakan bentuk kesultanan menjadi sebuah sistem teokrasi yang teratur. Kehadiran Syarif Ali membawa pengaruh "Barakah" (sesuai gelar beliau, Sultan Barkat) yang kemungkinan besar adalah manifestasi dari metode dakwah para leluhurnya, para Aulia di Timur Tengah dan Asia Tengah.
Dalam konteks Jawa, pola ini mirip dengan pembentukan Kesultanan Demak atau Banten, di mana otoritas politik selalu bersanding dengan otoritas spiritual. Brunei dan Jawa pada abad ke-15 hingga ke-16 adalah dua sayap dari satu gerakan besar internasionalisasi Islam di bawah panji keluarga besar Jumadil Kubra.
Analisis Geopolitik Historis: Mindanao sebagai "Hub" Sentral
Penting untuk dicatat bahwa Mindanao berfungsi sebagai titik simpul (hub) antara Brunei dan Jawa. Peran Raja Tabunawai dan Raja Mamaluk di Mindanao tidak bisa dipisahkan dari kebijakan dinasti Jumadil Kubra untuk mengamankan jalur dakwah dan perdagangan di Laut Sulu hingga Laut Jawa. Pernikahan antara Sayyid Muhammad Kebungsuan 2 dengan Putri Tonima adalah bukti bahwa stabilitas kawasan saat itu dijaga melalui aliansi keluarga yang sangat kokoh.
Kesimpulan: Implikasi Bagi Masa Depan Sejarah Nusantara
Temuan ini menuntut adanya revisi besar-besaran dalam buku teks sejarah di kawasan Asia Tenggara. Kita tidak lagi bisa melihat sejarah Brunei tanpa melihat manuskrip Jawa, dan kita tidak bisa memahami Walisongo tanpa menengok silsilah Sultan-Sultan di Borneo dan Mindanao.
Rekonstruksi nasab ini memberikan kita sebuah identitas baru: bahwa bangsa-bangsa di Nusantara (Indonesia, Malaysia, Brunei, Filipina Selatan) bukan hanya bersaudara karena bahasa dan budaya, tetapi benar-benar terikat oleh ikatan darah yang sakral dari para pembawa risalah Islam awal.
Penelitian ini diharapkan menjadi pintu pembuka bagi kolaborasi akademis yang lebih luas untuk terus menggali kekayaan manuskrip yang masih tersebar, demi memulihkan kebenaran sejarah yang selama ini terfragmentasi.
Oleh : Dr. H. Mohammad Subhan, MA (Dosen Pascasarjana Universitas Islam Madura dan Sekjen NAAT Indonesia)
Space Iklan Tersedia
600x200
Prev Article
In enim aliquam porro aut odio earum aspernatur at ea.
Next Article
Est aut autem mollitia nostrum laudantium voluptatibus cum q...